B.
Thawaf
Bagi wanita
yang haidh dan nifas haram melakukan thawaf di Ka’bah berdasarkan hadits:
الطَّوَافُ
بِمَنْزِلَةِ الصَّلاَةِ إِلاَّ أَنَّ اللهَ قَدْ أَحَلَّ فِيْهِ النُّطْقَ.
“Thawaf
kedudukannya sama dengan shalat, hanya saja Allah membolehkan berbicara saat thawaf.”
(HR. at-Tirmidzi no. 294, an-Nasâi, al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).
عَنْ
عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا: اصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي
بِالْبَيْتِ
.
Dari Aisyah Ra.
bahwa Nabi Saw. bersabda kepadanya: “Lakukanlah apa saja yang dilakukkan
orang yang haji tapi janganlah engkau thawaf di Ka’bah.” (HR. Bukhâri no.
294).
Para ulama
telah sepakat (ijma’) bahwa wanita yang haidh dan nifas haram melakukan thawaf.
Mereka juga sepakat, bahwa thawaf yang dilakukan wanita haidh dan nifas tidak
sah, baik itu thawaf fardhu ataupun sunnah. Selain itu, mereka juga sepakat
bahwa wanita yang haidh dan nifas tidak dilarang melakukan ritual-ritual haji
selain thawaf dan shalat sunnah thawaf. (Al-Majmû’ juz 2 halaman 386).
Ijma’ di sini masih
perlu ditinjau kembali, karena di dalam madzhab Imam Abu Hanifah dan salah satu
riwayat dari Imam Ahmad terdapat pendapat yang menyatakan bahwa wanita haidh
dan nifas boleh thawaf, tetapi ia wajib menyembelih onta. Karena menurut
mereka, thawaf boleh saja dilakukan walau tanpa adanya suci. Mungkin maksud ijma’
di sini adalah ijma’ ulama Syafi’iyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar